Pengalaman Menggunakan OS Linux dengan Distro Ringan

Linux adalah sistem operasi Open Source yang gratis dan diperbolehkan untuk dikembangkan menjadi distro sendiri. Linux menurut saya lebih asyik dibandingkan dengan Windows. Sebab dengan menggunakan Linux, kita menjadi bebas mengutak-atik system Linux yang bersifat open source.

Kalau di Windows, kita sulit untuk mengubah bagian systemnya. Maka dari itu, sampai sekarang saya masih betah menggunakan Linux. Tapi bukan berarti sudah tidak menggunakan Windows, saya masih ketergantungan sama software di Windows.

Ketika menggunakan Linux, sangat banyak pengalaman yang saya dapatkan. Proses, proses itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan Linux dan merelakan untuk meninggalkan Windows sementara waktu.

Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman ketika menggunakan Linux. Mulai dari pertama menggunakan Linux, sampai sekarang ini. Bagi teman-teman yang penasaran dengan kisah pengalaman saya, silahkan simak artikel ini sampai selesai.

Distro Linux yang Pernah Saya Gunakan

Artikel ini hanya akan menceritakan pengalaman saya ketika menggunakan Linux. Adapun distro Linux yang pernah saya gunakan adalah Ubuntu, Linux Mint, Elementary OS, dan Arch Linux. Ya memang masih sedikit sih distro yang saya coba, tapi tidak masalah, buat cari pengalaman saja.

Linux Ubuntu

Pengalaman Menggunakan Ubuntu

Pertama kali migrasi ke Linux, distro yang saya gunakan adalah Ubuntu, tepatnya Ubuntu Desktop 14.04 LTS. Awalnya saya melihat teman saya yang bernama Deni, dia menggunakan Ubuntu juga.

Saya penasaran, kaya gimana sih tampilan Ubuntunya. Setelah itu saya coba pinjam laptopnya untuk sekadar mengurangi rasa penasaran saya, eh eh kok malah terus kepingin menggunakan Ubuntu juga.

Saat itu sedang berada di sekolah, dan sesampainya di rumah saya langsung mengunduh ISO Ubuntu 14.04 LTS dan langsung saya burn di DVD. Tanpa pikir panjang saya backup data yang masih ada di Windows, langsung saya install Ubuntu 14.04 LTS single boot.

Ketika proses instalasi selesai, saya langsung mencoba si Ubuntu. Dari segi tampilan, saya belum menemui hal yang asing, masih ada bau-bau Windowsnya. Saya mempelajari berbagai macam tips trik menggunakan Ubuntu melalui grup Facebook dan juga berbagai Forum.

Hanya butuh waktu kurang dari satu hari, Ubuntu sudah bisa saya gunakan dengan baik ya meskipun baru yang dasar-dasar saja. Pokoknya OS ini sangat cocok untuk pemula seperti saya, sangat mudah dipahami.

Rasa penasaran saya muncul ketika saya ingat Photoshop. Lalu mencari tutorial cara install Photoshop di Ubuntu dan ada yang share tutorialnya. Langsung saya coba, ketika itu saya menggunakan Wine dan PlayOnLinux.

Setelah selesai, sudah puas rasanya bisa menggunakan Ubuntu yang ada Photoshopnya. Maklum lah ya, belum bisa meninggalkan Photoshop, masih terlalu ketergantungan.

Linux Mint

Pengalaman Menggunakan Linux Mint

Belum genap satu minggu, saya sudah pingin mencoba distro lain dan saya putuskan untuk memilih Linux Mint. Saya memilih Linux Mint karena melihat tampilannya yang cool. Saya menggunakan Linux Mint 18 Cinnamon.

Ketika itu kebetulan sedang praktik di Lab, ya sudah sekalian mengunduh file ISOnya. Sesampainya di rumah langsung saya burning ke DVD. Cuss langsung install. Untuk proses instalasi Ubuntu dan Linux Mint ini saya belum menemui kesulitan.

Setelah beberapa waktu akhirnya selesai juga proses instalasinya. Hmm, masih mirip dengan Ubuntu sih dari segi kemudahan. Oh ya, ketika menggunakan Linux Mint saya mengalami beberapa masalah yaitu WiFi tidak muncul.

Tetapi setelah mencari tutorial di internet akhirnya masalahnya teratasi. Banyak sekali support yang ada di internet. Jadi, ketika Anda mengalami permasalahan, akan banyak cara untuk mengatasinya.

Linux Mint ini cocok untuk Anda yang ingin mencoba migrasi Linux. Sama halnya dengan Ubuntu, kedua distro ini memiliki kemudahan dalam pengoperasian karena memang sudah GUI (Graphical User Interface).

Elementary OS

Pengalaman Menggunakan Elementary OS

Saya tertarik menggunakan Elementary OS karena tampilannya yang mirip dengan Mac OS X. Dengan hal ini, saya langsung berpikir pasti OSnya sangat user friendly dan mudah digunakan.

Ya, memang benar. Mulai dari instalasi sampai penggunaan dasar memang sangat mudah, wajar sih karena sudah GUI. Tampilannya sangat sederhana tapi nyaman dipandang mata, keren banget deh.

Elementary OS masih keturunan distro Ubuntu. Cara instalasi aplikasinya juga sangat mudah, tapi tetap berbeda dengan cara instal aplikasi di Ubuntu. Distro ini juga bisa direkomendasikan untuk Anda yang ingin mencoba Linux. Pokoknya mudah lah Elementary OS.

Yang saya kurang suka dari Elementary OS adalah aplikasi bawaannya sangat sedikit, jadi harus mengunduh terlebih dahulu. Mungkin ini merupakan alasan kenapa ukuran file Elementary OS hanya 1.3 GB saja.

Arch Linux

Pengalaman Menggunakan Arch Linux

Dan distro terakhir yang saya gunakan sampai sekarang adalah Arch Linux. Saya menggunakan Arch Linux awalnya karena pingin mencoba saja, penasaran dengan performa dari Arch Linux.

Awalnya saya kepingin karena teman saya Afif menggunakan distro ini. Sedikit bertanya-tanya terlebih dahulu, juga mencari informasi tentang Arch Linux yang ternyata ada di Kaskus.

Ya sudah, setelah itu tanpa pikir panjang langsung mengunduh file ISO Arch Linux yang ukurannya hanya sekitar 500MB, wow kecil banget. Eh eh tunggu dulu, file Arch Linux berukuran kecil karena belum GUI, maksudnya belum ada DE (Desktop Environment). Jadi ketika diinstall ya cuma command line aja.

Proses instalasi Arch Linux berbeda dengan Ubuntu, Linux Mint, dan Elementary OS. Tampilan awal yang disuguhkan hanya command line saja. Dengan command line inilah kita mengatur waktu, jam, tempat penyimpanan, swap, dan lain sebagainya. Jadi semua dilakukan dengan mengetikkan perintah command line.

Setelah proses instalasi Arch Linux selesai, kemudian dilanjutkan menginstall DE. Dalam memilih DE, kita bebas menyesuaikan dengan keinginan dan spesifikasi laptop. Kalau saya memilih menggunakan XFCE sebagai DEnya. Ketika masih di command line, kita juga bisa langsung menginstall software yang dibutuhkan seperti Mozilla, LibreOffice, dan sebagainya.

Kesan pertama yang saya dapat ketika menggunakan Arch Linux adalah simple dan ringan. Ya, saya merasakan kalau Arch Linux lebih ringan daripada ketiga distro yang pernah saya gunakan sebelumnya. Maka dari itu, sampai sekarang saya masih betah menggunakan Arch Linux.

Kelebihan Arch Linux yang saya suka adalah Rolling Release yaitu kita bisa melakukan upgrade tanpa harus menginstall OSnya lagi. Dengan adanya Rolling Release ini, menjadikan sistem Anda up to date.

Tapi ya itu, ketika menggunakan Arch Linux harus mempunyai persediaan koneksi internet yang banyak, kalau perlu menggunakan Wifi. Karena setiap minggu atau bahkan setiap hari, pasti selalu ada pembaharuan sistem untuk membuat perangkat lunak lebih stabil.

Distro Lain

Sebenarnya ada beberapa distro Linux lainnya yang pernah saya coba. Namun, ke-4 distro di atas adalah yang paling lama saya gunakan, baik sekadar untuk browsing sampai hal yang berhubungan dengan pekerjaan.

Ya, itulah sedikit pengalam saya menggunakan beberapa distro Linux. Pokoknya asyik lah ketika sudah mencoba Linux, pasti bakal ketagihan. Mungkin hanya ini saja yang dapat saya sampaikan, semoga bisa bermanfaat untuk Anda semua.

Charis

Pemuda Magelang yang suka dengan komputer dan menulis blog.

Update:

2 pemikiran pada “Pengalaman Menggunakan OS Linux dengan Distro Ringan”

  1. Setelah denger pengalaman menggunakan ArcLinux. Aku juga kepengen install dualboot nih cuy, rada risih sih dengan laptop G405 dualcore E1 – 1GHz (NonBoostclock) ram4gb yang udah bukan pada zamannya :’)

    Walaupun aku sudah debloater windows10, simple tweaking diregedit. Menyetel video di browser mentok 480p. Yaa walupun, ada sih peningkatan dari kinerja cpunya, tapi klo multitasking tetep lelet bet dah

    Untuk kedepannya bisa request step by step install arclinuxnya? Pokoknya rekomendasinya agan deh X)
    sekian terimakasih <3

    Balas
    • Waduh, untuk cara install Arch Linux saya juga cuma ikut tutorial di YouTube.
      Jadi kalau untuk bikin tutorial, sepertinya belum mampu.

      Balas

Tinggalkan komentar