Pengalaman Diterima Google AdSense
Saya kenal blog sekitar tahun 2014, kalau tidak salah bulan Agustus. Saat itu, saya dikenalkan dengan platform MyWapBlog oleh teman saya (Agus Dwi Aryanto). MyWapBlog adalah platform blogging yang sangat mudah dikelola dengan handphone, karena itu merupakan fokus pendiri platform ini.

Pada awal-awal ngeblog, saya sama sekali belum tahu kalau blog bisa menghasilkan uang. Ya asal ngeblog saja, rasanya sudah seneng banget. Saya masih ingat, dulu saya ngeblog menggunakan hp Nokia C1-01 dengan layar yang super kecil.

Beranjak ke tahun 2015, saya sudah mulai tahu kalau blog memang bisa menghasilkan uang. Saya berhasil membuktikannya sendiri, walaupun hasilnya bukan uang, melainkan pulsa receh yang sudah bikin saya seneng banget.

Diterima Google AdSense

Setelah itu, platform MyWapBlog tutup dan akhirnya saya pindah ke Blogger. Disini, saya sudah mulai berpikir agar bisa memiliki akun AdSense. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan sedikit pengalaman saya sampai diterima AdSense.

Pengalaman Diterima AdSense

Kita pasti sepakat kalau memiliki AdSense merupakan impian sebagian besar Blogger. Karena banyak pemilik blog yang berpikir bakal kaya kalau sudah memiliki AdSense. Namun kenyataannya? Hehe, Anda pasti sudah tahu jawabannya.

Saat ini (2017), mendaftar AdSense bisa dikatakan gampang-gampang susah. Namun, yang saya rasakan pribadi adalah susahnya. Terbukti, saya ditolak 10x sampai akhirnya diterima menjadi publisher Google AdSense.

Saya membangun blog khusus untuk daftar AdSense pada 30 Juli 2016. Saya berusaha membuat konten yang tidak copy paste dan sebisa mungkin lolos copyscape. Alasannya sudah jelas, biar bisa diterima oleh AdSense.

Saya mulai mendaftar AdSense pada 16 Februari 2017, tepat saat saya berumur 17 tahun. Harapan saya saat itu adalah mendapat kado spesial di hari ulang tahun saya. Namun, Google memberikan surat cinta pertama berupa penolakan.

Ditolak Google AdSense

Apakah Anda sudah pernah mendapatkan email seperti itu dari Google? Kalau sudah pernah, berarti kita senasib. Tidak masalah, saya berpikir kalau memiliki AdSense bukanlah rejeki saya saat itu. Tapi saya yakin, suatu saat pasti diterima.

Saya ringkas saja ya ceritanya. Jadi, saya mendapat email serupa pada percobaan ke-2 sampai ke-9. Entah apa yang salah, saya juga tidak tahu, yang pasti Google memang belum memberi kesempatan bagi saya untuk menjadi mitranya.

Pada percobaan ke-10, saya mencoba daftar melalui YouTube. Dan dalam waktu 3 jam saja, saya sudah berhasil diterima. Kita semua tahu kalau akun hosted YouTube tidak bisa dipasang di blog, kita harus melakukan upgrade ke Non Hosted.

Saat proses upgrade, saya digantung oleh Google. Tidak ada email masuk dari adsense-noreply@google.com yang biasanya rajin memberikan surat penolakan kepada saya. Saya sudah menunggu selama seminggu, namun tetap digantung.

Karena tidak sabar menunggu, akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan akun tersebut dan berniat daftar ulang langsung melalui website AdSense karena saat itu saya sudah menggunakan domain TLD (Top Level Domain).

Jika Anda ingat, tanggal 24 Maret 2017 kan ada webinar Google AdSense tuh. Dalam webinar tersebut, mbak-mbaknya bilang "Bagi Anda yang memiliki situs dan ingin mendapatkan penghasilan, saya sarankan segera mendaftarkan situs Anda. Karena dalam 1 minggu ini kami akan segera mereview situs yang didaftarkan."

Mendengar kalimat tersebut, saya langsung mendaftarkan blog saya. Dan alhamdulillah, setelah seminggu menunggu, akhirnya permintaan saya diterima pada 30 Maret 2017, bertepatan dengan Malam Jum'at Kliwon.

Pengalaman Diterima AdSense

Rasanya seneng banget lah, akhirnya bisa merasakan menjadi publisher AdSense. Ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal perjuangan. Karena pageviews blog saya masih kisaran 1000-2500 saja, masih jauh untuk gajian tiap bulan.

Nah, itulah sedikit pengalaman saya saat diterima Google AdSense. Bagi yang masih ditolak, jangan patah semangat. Pokoknya coba terus, jangan berhenti kalau belum berhasil.

Post a Comment

KOMENTAR

Lebih baru Lebih lama